Selasa, 12 Oktober 2010

pewarnaan gram

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pengetahuan mengenai morfologi dan struktur halus bakteri diperoleh dalam dua kurun waktu yang berbeda. Pengamatan-pengamatan yang dibuat oleh Leeuwenhoeek dengan mikroskonya yang sederhana menampakkan penampilan kasar mikroorganisme, termasuk bakteri. Gambar-gambarnya yang telah dibuat dengan hati-hati mengenai apa yang kini kita kenal sebagai bakteri menampakkan bentuk-bentuk sel yang bulat, seperti batang atau spiral. Sel bakteri amat beragam panjangnya, sel beberapa spesies dapat berukuran seratus kali lebih panjang dari pada sel spesies yang lain (Pelczar 1986 : 99-100).
Identifikasi dan determinasi suatu biakan murni bakteri yang diperoleh dari hasil isolasi dapat dilakukan yang meliputi pengamatan sifat morfologi koloni, morfologi sel bakteri bentuk dan ukuran serta sifat hasil pengecetan gram, pengujian sifat-sifat morfologi koloni dan selnya. Perlu dilakukan pengujian patogenesis dan serologinya. Mengingat pertumbuhan bakteri di alam dipengaruhi oleh beberapa faktor luar antara lain substrat pertumbuhan atau media, pH, temperatur dan beberapa bahan kimia, maka bakteri yang nampak kemungkinan mempunyai morfologi yang sama, tetapi keperluan nutrisi dan persyaratan ekologinya berbeda (Soetrarto 1995 : 37).
Bakteri atau mikroba lainnya dapat dilihat dengan mikroskop tanpa pengecatan yaitu dengan cara khusus (hanging crop), kondensor medan gelap dan sebagainya. Tetapi pengamatan tanpa pengecatan ini lebih sukar dan tidak dapat dipakai untuk melihat bagian-bagian sel dengan teliti, karena sel bakteri atau mikroba lainnya transparan atau semi transparan (Widjajanti 1996 : 29).
Pengukuran kuantitatif populasi sangat diperlukan dalam berbagai penelaan mikrobiologi. Contohnya adalah pengukuran kuantitas populasi mokroba yang ada pasa susu. Dasar dari ilmu pengetahuan dan teknologi produk susu adalah air susu. Air susu bukan hanya makanan yang baik bagi manusia, akan tetapi juga baik untuk spesies bakteri, bakteri yang bersifat patogen maupun saprofit (Dwidjoseputro 1991).
Identifikasi pengecatan dapat dilakukan dengan beberapa cara misalnya mempertinggi kadar cat, menpertinggi temperatur pengecatan (60-900C) dan menambahkan suatu mordan. Mordan adalah suatu zat kimia yang dapat menyebabkan sel-sel bakteri yang dicat lebih intensif atau menyebabkan cat terikat lebih kuat pada jaringan sel bila dibandingkan dengan cara pengecetan tanpa diberi mordan (Widjajanti 1996 : 31-32).


B. Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengenal bentuk pertumbuhan koloni dan sifat-sifat karakteristik koloni bakteri pada berbagai bentuk media, mengetahui cara mewarnai bakteri, mempermudah melihat bentuk jasad mikrobia, menjelas ukuran dan bentuk mikrobia.












II. TINJAUAN PUSTAKA

Teknik pewarnaan gram pertama kali diuraikan dalam suatu publikasi pada tahun 1884 oleh seorang ahli bakteriologi Denmark,Christian Gram. Dia mengembangkan prosedur pewarnaan ini selagi mencari suatu metode untuk memperlihatkan bakteri pneumokokus pada jaringan paru-paru pasien yang mati karena pneumonia (Pelczar 1986)
Pada pemeriksaan laboratories, pewarnaan sangat membantu untuk memperjelas gambaran specimen yang diperiksa baik morfologi, struktur maupun organel yang dimiliki suatu organisme atau jaringan. Pewarnaan ini dilakukan dengan menggunakan zat pewarna yang mempunyai kemampuan dalam mewarnai sel organisme dan jaringan sesuai dengan sifat-sifatnya. Secara kimiawi, senyawa yang memberikan warna tersebut disebut chromophore yang bersifat tidak permanent dalam mewarnai sel atau jaringan. Agar sifat memberi warna ini tetap, maka pada zat pewarna tersebut harus mempunyai bagian yang disebut sebagai auxochome. Dengan demikian yang dimaksud zat pewarna adalah suatu senyawa organic kompleks yang mengandung khromophore (pembawa warna) dan auxochrome (radikal pengikat warna) (Novita 2006).
Identifikasi dan determinasi suatu biakan murni bakteri yang diperoleh dari hasil isolasi dapat dilakukan yang meliputi pengamatan sifat morfologi koloni, morfologi sel bakteri bantuk dan ukuran serta sifat hasil pengecatan gram, pengujian sifat-sifat morfologi koloni dan selnya. Perlu dilakukan pengujian patogenesis dan serologinya. Mengingat pertumbuhan bakteri di alam dipengaruhi oleh beberapa faktor luar antara lain substrat pertumbuhan atau media, pH, temperatur dan beberapa bahan kimia,maka bakteri yang nampak kemungkinan mempunyai morfologi yang sama, tetapi keperluan nutrisi dan persyaratan ekologinya berbeda (Soetrarto 1995).
Zat warna dapat dibedakan menurut beberapa hal berdasarkan asal diperolehnya yaitu zat pewarna alamiah dan zat pewarna sintetik, berdasarkan sifatnya yaitu zat pewarna asam dan basa, serta berdasarkan kemampuan mewarnai jaringan yaitu zat warna substantive dan zat warna ajektif
(Novita 2006).
Adapun yang disebut sifat-sifat suatu koloni ialah sifat-sifat yang ada sangkutpautnya dengan bentuk, susunan, permukaan,pengkilatan dan sebagainya. Pengamatan sifat-sifat ini dapat dilakukan pengamatan mikroskopi. Supaya sifat-sifat tersebut tampak jelas, bakteri perlu ditumbuhkan pada medium padat. Empat cara yaitu sebagai berikut :
1. Ujung kawat inokulasi yang membawakan bakteri digesekkan pada permukaan agar-agar lempengan dalam cawan petri sampai meliputi seluruh permukaan dengan demikian akan diperoleh piaraan lempengan (Plate atau steak culture).
2. Ujung kawat yang membawakan bakteri digesekkan pada permukaan agar-agar miring dengan demikian akan diperoleh piaraan miring (slant culture).
3. Ujung kawat yang membawakan bakteri ditusukkan ke dalam agar-agar dalam tabung reaksi, sedang permukaan medium ini tidak miring seperti pada b; dengan demikian akan diperoleh piaraan tusukan (stab culture).
4. Setetes suspensi bakteri dicampur adukkan dengan medium yang masih cair belum membeku dengan demikian akan diperoleh piaraan adukkan shake atau shake culture (Dwidjoseputro 1986).
Pengamatan bentuk pertumbuhan koloni bakteri pada medium agar tegak dan agar miring, bentuk koloni yang terjadi bentuk pertumbuhan pada bekas tusukan atau goresan berupa filiform, eechinulate, beadet, filos, rizoid, speading, arborecent atau plumose. Pengamatan pertumbuhan bakteri pada medium nutrien cair membentuk pertumbuhan dipermukaan medium yaitu membentuk selaput riang, pellikel,
hocculent, membraneous dan tak membentuk selaput, sifat bakteri berdasarkan bentuk pertumbuhan tersebut aerob, anaerob dan fakultatif anaerob. Endapannya kompak, membentuk butiran atau granular berlapis-lapis, kental, banyak sekali atau sedikit atau tidak ada endapan. Pertumbuhan bakteri menutup permukaan medium di dasar tabung. Berbagai macam bentuk koloni yang tumbuh di dalam cawan petri dengan urutan atau searah jarum jam sebagai berikut yaitu bentuk koloni sesuai dengan standar punetiform, circuler, filamentous, irregular, curled, amoboid, Rozoid (Soetarto 1995).


















III. METODOLOGI

A. Tempat dan Waktu
Praktikum ini dilaksanakan pada hari rabu , tanggal 26 Mei 2010, pada pukul 13.00 WIB sampai selesai. Yang bertempat di Laboratorium Bersama Perikanan, Fakultas Pertanian ,Universitas Sriwijaya, Inderalaya.


B. Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah Jarum inokulasi, pupukan miring bakteri (Eschericia coli, Staphylococcus aureus, dan bakteri campuran ), kaca objek, botol berisi aquadest, Pewarna safranin, Iodium, alkohol, violet, water bath.


C. Cara Kerja
Pada pewarnaan gram, diinokulasi secara aseptis biakan murni Aerononas, dan bakteri biakan campuran dalam medium agar miring dengan memakai jarum ose. Difiksasi dan diwarnai dengan kristal violet selama 5 menit lalu dibilas dengan aquadest, ditetesi dengan larutan iodium selama 30 detik, dibilas dengan aquadest, ditambah larutan etanol 70% selama 30 detik dan diwarnai dengan larutan safranin selama 30 detik.





IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil
Pewarnaan Gram
No Bakteri Hasil
1 Eschericia coli Pink (negatif)

B. Pembahasan
Pada praktikum ini, pewarnaan gram menggunakan bakteri Eschericia coli . Pengecatan gram ini terdiri dari beberapa tahapan dimana violet kristal berfungsi sebagai cat utama, larutan iodium sebagai mordan berfungsi untuk mengintensifikasikan, larutan etanol 70% digunakan sebagai peluntur dan safranin berfungsi sebagai cat penutup. Pada tahap pengecatan gram dilakukan proses fiksasi yang bertujuan untuk melekatkan sel bakteri pada kaca objek, untuk membunuh sel bakteri tanpa merusak struktur bakteri dan untuk mencegah autolisis sel (Soetarto, 1995).
Hasil pengecatan tersebut dapat dibedakan yaitu bakteri gram positif dan bakteri gram negatif. Pada prosedur pewarnaan gram mewarnai beberapa bakteri menjadi ungu dan yang lain merah karena hal ini tampaknya disebabkan oleh perbedaan dalam struktur kimiawi permukaannya (Dwidjoseputro, 1986).
Bakteri gram positif berwarna ungu adalah bakteri yang mampu mengikat kuat cat utama violet kristal dan tidak terlunturkan oleh aseton alkohol. Sehingga tidak terpengaruh cat penutup safranin. Bakteri gram negatif berwarna merah adalah bakteri yang dinding selnya tidak mampu menyerap kuat cat utama violet kristal sehingga mudah terlunturkan oleh alkohol dan akhirnya selnya tertutup cat penutup safranin (Soetrarto, 1995).
Pewarnaan gram masih merupakan salah satu prosedur yang paling banyak digunakan untuk mencirikan banyak bakteri. Terutama amat berarti di laboratorium diagnostik rumah sakit karena informasi yang diperoleh dari pengamatan spesimen yang diwarnai dengan pewarnaan gram dengan cepat dapat memberi petunjuk akan organisme penyebab suatu infeksi (Pelczar, 1986).
Bakteri gram negatif berbeda dari bakteri gram positif yaitu bakteri gram negatif lebih rentan terhadap asam antibiotik seperti streptomisin. Bakteri gram positif pada umumnya lebih rentan terhadap antibiotik penisilin dan kurang rentan terhadap disintegrasi oleh perlakuan mekanis atau bila diberi enzim-enzim tertentu
(Soetarto, 1995).
Faktor-faktor yang mempengaruhi dalam pewarnaan mikrobia antara lain adalah fiksasi, peluntur warna, subtrat, intensifikasi pewarna untuk mempercepat pewarnaan mikrobia sehingga zat akan terikat lebih mudah di dalam jaringan. Zat warna penutup untuk memberikan warna kontras pada sel mikrobia, yang diwarnai yang tidak menyerap warna pula (Soetrarto, 1995).














V. KESIMPULAN

A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang didapat dari praktikum ini adalah:
1. Penggunaan bakteri Aeromonas menghasilkan pewarnaan gram positif karena warna yang di dapatkan adalah dominan ungu.
2. Jika yang di hasilkan berwarna merah maka bakteri yang tumbuh pada media adalah bakteri gram negatif
3. Jika yang di hasilkan berwarna ungu maka bakteri yang tumbuh pada media adalah bakteri gram positif.
4. Umur bakteri pada pewarnaan gram harus berumur 24 jam atau 1 hari.
5. Jenis bakteri gram negatif adalah Eschericia coli


B. Saran
Menurut saya praktikum terakhir ini sangat buruk. Apalagi karena ruangan yang sempit tetapi jumlah praktikannya banyak. Selain itu para asisten kurang tegas kepada praktikan yang ribut serta sebelum praktikum alat harus diperhatikan agar praktikum berjalan dengan baik.










DAFTAR PUSTAKA

Pelczar. J. Michael dan Chan E.C.S. 1986. Dasar-dasar Mikrobiologi. Universitas Indonesia : Jakarta.
Soetarto. 1995. Bakteri dan Virus. Erlangga. Jakarta.
Dwidjoseputro. 1986. Mikrobiologi untuk Universitas. Ganesha Expect. Bandung.
Hiskis, ahmad. 1982. Kimia Larutan. Departemen kimia Fakultas MIPA ITB . Bandung






















LAPORAN PRAKTIKUM
DASAR-DASAR MIKROBIOLOGI AKUATIK
PEWARNAAN GRAM















Oleh :
Kelompok I
Wahyu Angga Saputra
05091005026










FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
INDRALAYA
2010

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar