Selasa, 12 Oktober 2010

pewarnaan gram

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pengetahuan mengenai morfologi dan struktur halus bakteri diperoleh dalam dua kurun waktu yang berbeda. Pengamatan-pengamatan yang dibuat oleh Leeuwenhoeek dengan mikroskonya yang sederhana menampakkan penampilan kasar mikroorganisme, termasuk bakteri. Gambar-gambarnya yang telah dibuat dengan hati-hati mengenai apa yang kini kita kenal sebagai bakteri menampakkan bentuk-bentuk sel yang bulat, seperti batang atau spiral. Sel bakteri amat beragam panjangnya, sel beberapa spesies dapat berukuran seratus kali lebih panjang dari pada sel spesies yang lain (Pelczar 1986 : 99-100).
Identifikasi dan determinasi suatu biakan murni bakteri yang diperoleh dari hasil isolasi dapat dilakukan yang meliputi pengamatan sifat morfologi koloni, morfologi sel bakteri bentuk dan ukuran serta sifat hasil pengecetan gram, pengujian sifat-sifat morfologi koloni dan selnya. Perlu dilakukan pengujian patogenesis dan serologinya. Mengingat pertumbuhan bakteri di alam dipengaruhi oleh beberapa faktor luar antara lain substrat pertumbuhan atau media, pH, temperatur dan beberapa bahan kimia, maka bakteri yang nampak kemungkinan mempunyai morfologi yang sama, tetapi keperluan nutrisi dan persyaratan ekologinya berbeda (Soetrarto 1995 : 37).
Bakteri atau mikroba lainnya dapat dilihat dengan mikroskop tanpa pengecatan yaitu dengan cara khusus (hanging crop), kondensor medan gelap dan sebagainya. Tetapi pengamatan tanpa pengecatan ini lebih sukar dan tidak dapat dipakai untuk melihat bagian-bagian sel dengan teliti, karena sel bakteri atau mikroba lainnya transparan atau semi transparan (Widjajanti 1996 : 29).
Pengukuran kuantitatif populasi sangat diperlukan dalam berbagai penelaan mikrobiologi. Contohnya adalah pengukuran kuantitas populasi mokroba yang ada pasa susu. Dasar dari ilmu pengetahuan dan teknologi produk susu adalah air susu. Air susu bukan hanya makanan yang baik bagi manusia, akan tetapi juga baik untuk spesies bakteri, bakteri yang bersifat patogen maupun saprofit (Dwidjoseputro 1991).
Identifikasi pengecatan dapat dilakukan dengan beberapa cara misalnya mempertinggi kadar cat, menpertinggi temperatur pengecatan (60-900C) dan menambahkan suatu mordan. Mordan adalah suatu zat kimia yang dapat menyebabkan sel-sel bakteri yang dicat lebih intensif atau menyebabkan cat terikat lebih kuat pada jaringan sel bila dibandingkan dengan cara pengecetan tanpa diberi mordan (Widjajanti 1996 : 31-32).


B. Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengenal bentuk pertumbuhan koloni dan sifat-sifat karakteristik koloni bakteri pada berbagai bentuk media, mengetahui cara mewarnai bakteri, mempermudah melihat bentuk jasad mikrobia, menjelas ukuran dan bentuk mikrobia.












II. TINJAUAN PUSTAKA

Teknik pewarnaan gram pertama kali diuraikan dalam suatu publikasi pada tahun 1884 oleh seorang ahli bakteriologi Denmark,Christian Gram. Dia mengembangkan prosedur pewarnaan ini selagi mencari suatu metode untuk memperlihatkan bakteri pneumokokus pada jaringan paru-paru pasien yang mati karena pneumonia (Pelczar 1986)
Pada pemeriksaan laboratories, pewarnaan sangat membantu untuk memperjelas gambaran specimen yang diperiksa baik morfologi, struktur maupun organel yang dimiliki suatu organisme atau jaringan. Pewarnaan ini dilakukan dengan menggunakan zat pewarna yang mempunyai kemampuan dalam mewarnai sel organisme dan jaringan sesuai dengan sifat-sifatnya. Secara kimiawi, senyawa yang memberikan warna tersebut disebut chromophore yang bersifat tidak permanent dalam mewarnai sel atau jaringan. Agar sifat memberi warna ini tetap, maka pada zat pewarna tersebut harus mempunyai bagian yang disebut sebagai auxochome. Dengan demikian yang dimaksud zat pewarna adalah suatu senyawa organic kompleks yang mengandung khromophore (pembawa warna) dan auxochrome (radikal pengikat warna) (Novita 2006).
Identifikasi dan determinasi suatu biakan murni bakteri yang diperoleh dari hasil isolasi dapat dilakukan yang meliputi pengamatan sifat morfologi koloni, morfologi sel bakteri bantuk dan ukuran serta sifat hasil pengecatan gram, pengujian sifat-sifat morfologi koloni dan selnya. Perlu dilakukan pengujian patogenesis dan serologinya. Mengingat pertumbuhan bakteri di alam dipengaruhi oleh beberapa faktor luar antara lain substrat pertumbuhan atau media, pH, temperatur dan beberapa bahan kimia,maka bakteri yang nampak kemungkinan mempunyai morfologi yang sama, tetapi keperluan nutrisi dan persyaratan ekologinya berbeda (Soetrarto 1995).
Zat warna dapat dibedakan menurut beberapa hal berdasarkan asal diperolehnya yaitu zat pewarna alamiah dan zat pewarna sintetik, berdasarkan sifatnya yaitu zat pewarna asam dan basa, serta berdasarkan kemampuan mewarnai jaringan yaitu zat warna substantive dan zat warna ajektif
(Novita 2006).
Adapun yang disebut sifat-sifat suatu koloni ialah sifat-sifat yang ada sangkutpautnya dengan bentuk, susunan, permukaan,pengkilatan dan sebagainya. Pengamatan sifat-sifat ini dapat dilakukan pengamatan mikroskopi. Supaya sifat-sifat tersebut tampak jelas, bakteri perlu ditumbuhkan pada medium padat. Empat cara yaitu sebagai berikut :
1. Ujung kawat inokulasi yang membawakan bakteri digesekkan pada permukaan agar-agar lempengan dalam cawan petri sampai meliputi seluruh permukaan dengan demikian akan diperoleh piaraan lempengan (Plate atau steak culture).
2. Ujung kawat yang membawakan bakteri digesekkan pada permukaan agar-agar miring dengan demikian akan diperoleh piaraan miring (slant culture).
3. Ujung kawat yang membawakan bakteri ditusukkan ke dalam agar-agar dalam tabung reaksi, sedang permukaan medium ini tidak miring seperti pada b; dengan demikian akan diperoleh piaraan tusukan (stab culture).
4. Setetes suspensi bakteri dicampur adukkan dengan medium yang masih cair belum membeku dengan demikian akan diperoleh piaraan adukkan shake atau shake culture (Dwidjoseputro 1986).
Pengamatan bentuk pertumbuhan koloni bakteri pada medium agar tegak dan agar miring, bentuk koloni yang terjadi bentuk pertumbuhan pada bekas tusukan atau goresan berupa filiform, eechinulate, beadet, filos, rizoid, speading, arborecent atau plumose. Pengamatan pertumbuhan bakteri pada medium nutrien cair membentuk pertumbuhan dipermukaan medium yaitu membentuk selaput riang, pellikel,
hocculent, membraneous dan tak membentuk selaput, sifat bakteri berdasarkan bentuk pertumbuhan tersebut aerob, anaerob dan fakultatif anaerob. Endapannya kompak, membentuk butiran atau granular berlapis-lapis, kental, banyak sekali atau sedikit atau tidak ada endapan. Pertumbuhan bakteri menutup permukaan medium di dasar tabung. Berbagai macam bentuk koloni yang tumbuh di dalam cawan petri dengan urutan atau searah jarum jam sebagai berikut yaitu bentuk koloni sesuai dengan standar punetiform, circuler, filamentous, irregular, curled, amoboid, Rozoid (Soetarto 1995).


















III. METODOLOGI

A. Tempat dan Waktu
Praktikum ini dilaksanakan pada hari rabu , tanggal 26 Mei 2010, pada pukul 13.00 WIB sampai selesai. Yang bertempat di Laboratorium Bersama Perikanan, Fakultas Pertanian ,Universitas Sriwijaya, Inderalaya.


B. Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah Jarum inokulasi, pupukan miring bakteri (Eschericia coli, Staphylococcus aureus, dan bakteri campuran ), kaca objek, botol berisi aquadest, Pewarna safranin, Iodium, alkohol, violet, water bath.


C. Cara Kerja
Pada pewarnaan gram, diinokulasi secara aseptis biakan murni Aerononas, dan bakteri biakan campuran dalam medium agar miring dengan memakai jarum ose. Difiksasi dan diwarnai dengan kristal violet selama 5 menit lalu dibilas dengan aquadest, ditetesi dengan larutan iodium selama 30 detik, dibilas dengan aquadest, ditambah larutan etanol 70% selama 30 detik dan diwarnai dengan larutan safranin selama 30 detik.





IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil
Pewarnaan Gram
No Bakteri Hasil
1 Eschericia coli Pink (negatif)

B. Pembahasan
Pada praktikum ini, pewarnaan gram menggunakan bakteri Eschericia coli . Pengecatan gram ini terdiri dari beberapa tahapan dimana violet kristal berfungsi sebagai cat utama, larutan iodium sebagai mordan berfungsi untuk mengintensifikasikan, larutan etanol 70% digunakan sebagai peluntur dan safranin berfungsi sebagai cat penutup. Pada tahap pengecatan gram dilakukan proses fiksasi yang bertujuan untuk melekatkan sel bakteri pada kaca objek, untuk membunuh sel bakteri tanpa merusak struktur bakteri dan untuk mencegah autolisis sel (Soetarto, 1995).
Hasil pengecatan tersebut dapat dibedakan yaitu bakteri gram positif dan bakteri gram negatif. Pada prosedur pewarnaan gram mewarnai beberapa bakteri menjadi ungu dan yang lain merah karena hal ini tampaknya disebabkan oleh perbedaan dalam struktur kimiawi permukaannya (Dwidjoseputro, 1986).
Bakteri gram positif berwarna ungu adalah bakteri yang mampu mengikat kuat cat utama violet kristal dan tidak terlunturkan oleh aseton alkohol. Sehingga tidak terpengaruh cat penutup safranin. Bakteri gram negatif berwarna merah adalah bakteri yang dinding selnya tidak mampu menyerap kuat cat utama violet kristal sehingga mudah terlunturkan oleh alkohol dan akhirnya selnya tertutup cat penutup safranin (Soetrarto, 1995).
Pewarnaan gram masih merupakan salah satu prosedur yang paling banyak digunakan untuk mencirikan banyak bakteri. Terutama amat berarti di laboratorium diagnostik rumah sakit karena informasi yang diperoleh dari pengamatan spesimen yang diwarnai dengan pewarnaan gram dengan cepat dapat memberi petunjuk akan organisme penyebab suatu infeksi (Pelczar, 1986).
Bakteri gram negatif berbeda dari bakteri gram positif yaitu bakteri gram negatif lebih rentan terhadap asam antibiotik seperti streptomisin. Bakteri gram positif pada umumnya lebih rentan terhadap antibiotik penisilin dan kurang rentan terhadap disintegrasi oleh perlakuan mekanis atau bila diberi enzim-enzim tertentu
(Soetarto, 1995).
Faktor-faktor yang mempengaruhi dalam pewarnaan mikrobia antara lain adalah fiksasi, peluntur warna, subtrat, intensifikasi pewarna untuk mempercepat pewarnaan mikrobia sehingga zat akan terikat lebih mudah di dalam jaringan. Zat warna penutup untuk memberikan warna kontras pada sel mikrobia, yang diwarnai yang tidak menyerap warna pula (Soetrarto, 1995).














V. KESIMPULAN

A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang didapat dari praktikum ini adalah:
1. Penggunaan bakteri Aeromonas menghasilkan pewarnaan gram positif karena warna yang di dapatkan adalah dominan ungu.
2. Jika yang di hasilkan berwarna merah maka bakteri yang tumbuh pada media adalah bakteri gram negatif
3. Jika yang di hasilkan berwarna ungu maka bakteri yang tumbuh pada media adalah bakteri gram positif.
4. Umur bakteri pada pewarnaan gram harus berumur 24 jam atau 1 hari.
5. Jenis bakteri gram negatif adalah Eschericia coli


B. Saran
Menurut saya praktikum terakhir ini sangat buruk. Apalagi karena ruangan yang sempit tetapi jumlah praktikannya banyak. Selain itu para asisten kurang tegas kepada praktikan yang ribut serta sebelum praktikum alat harus diperhatikan agar praktikum berjalan dengan baik.










DAFTAR PUSTAKA

Pelczar. J. Michael dan Chan E.C.S. 1986. Dasar-dasar Mikrobiologi. Universitas Indonesia : Jakarta.
Soetarto. 1995. Bakteri dan Virus. Erlangga. Jakarta.
Dwidjoseputro. 1986. Mikrobiologi untuk Universitas. Ganesha Expect. Bandung.
Hiskis, ahmad. 1982. Kimia Larutan. Departemen kimia Fakultas MIPA ITB . Bandung






















LAPORAN PRAKTIKUM
DASAR-DASAR MIKROBIOLOGI AKUATIK
PEWARNAAN GRAM















Oleh :
Kelompok I
Wahyu Angga Saputra
05091005026










FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
INDRALAYA
2010

pengenalan alat biokimia

I. PENDAHULUAN



A.Latar Belakang


Dalam prakteknya, seseorang yang mempelajari atau menekuni bidang kimia akan selalu dihadapkan pada hal-hal yang berhubungan dengan bahan-bahan kimia yang berbahaya dan merugikan kehidupan manusia terutama bagi orang tersebut. Setidaknya ada tantangan bagi para ahli kimia untuk mempelajari hal – hal yang berbahaya itu. Selain bahan kimia, penggunaan peralatan juga penting dalam melakukan praktek di laboratorium kimia. Kesalahan penggunaan alatb dan bahan merupakan salah satu penyebab terjadinya hal-hal yang kurang mnguntungka atau berbahaya bagi dirinya maupun orang lain (Tutje, 2004).
Banyak hal yang terjadi akibat kesalahan dalam penggunaan peralatan maupun bahan sehingga dapat menimbulkan kebakaran, menyebarkan gas beracun atau juga masuknya zat kimia ke dalam tubuh yang dapat menyebabkan kematian. Akan tetapi banyak praktikan yang kadang-kadang masih belum menyadari akan bahaya zat kimia itu dan tidak mengindahkan pesan-pesan dari para pembimbingnya (Alimudin, 2005).
Selain mengenal nama alat-alat tersebut kita juga harus mengenal fungsi alat-alat tersebut. Kebanyakan para praktikan belum mengetahui benar apa fungsi dari alat-alat yang ada di laboratorium, walaupun mereka telah mengenal bentuk dan nama-nama alat tersebut. Dengan kita telah menenal nam, bentuk dan fungsi alat yang akan kita gunakan maka kita akan lebih mudah dalam melakukan praktikum. Dalam penggunaan alat dan dalam membaca skala, jika terjadi kesalahan maka akan mempengaruhi keberhasilan yang akan kita dalam praktikum kita. Selain itu juga dapat berrpengaruh terhadap keselamatan praktikan (Anonim, 2010).
Dalam melakukan praktikum di laboratorium, banyak faktor yang harus di perhatikan oleh praktikan di dalam penggunaan alat-alat di laboratorium. Salah satunya adalah tingkat sanitasi peralatan di dalam laboratorium. Kebersihan alat adalah hal yang sangat penting yang harus di perhatikan oleh praktikan karena kebersihan alat yang tidak bersih dapat menyebabkan hasil yang di peroleh dalam praktikum tidak akurat dan juga dapat mengakibatkan kegagalan dalam praktikum.
Bukan hanya itu saja, di dalam laboratorium banyak terdapat bahan-bahan beracun berbahaya yang dapat menyebabkan gangguan ataupun keracunan pada praktikan. Setiap bahan-bahan beracun itu memiliki ukuran tingkat bahaya bagi tubuh manusia terutama bahan beracun yang memberikan efek kronis yaitu NAB (Nilai Ambang Batas) atau TLV (Threshold Limit Value) (Wawan, 2010).
Ada beberapa faktor yang harus di perhatikan oleh para praktikan di dalam penggunaan alat-alat di laboratorium. Antara lain adalaha kebersihan, tak dapat di pyngkiri bahwa kebersihan alat adalah hal penting yang harus di perhatikan karena kebersihan alat tersebut dapat mempermudah kita dalam melakukan praktikum tanpa harus mencucinya terlebih dahulu (Anonim, 2010).
Menurut Tjurmin Ginting (2006), alat gelas yang sering di gunakan dalam laboratorium kimia antara lain :
1. Biuret yang terdiri dari tipe kran kaca, kran karet, dan biuret dengan ujung melengkung.
2. Alat pemindah terdiri dari :
 Alat pemisah campuran padat-cair ( alat penyaring).
Contoh : Corong biasa, Corong buchner.
 Alat pemisah campuran cair-cair ( corong pamisah ).
Contoh : Kertas saring dan corong pemisah.
3. Beker glas di gunakan sebagai tempat larutan dan juga untuk memanaskan / meguapkan suatu larutan.
4. Alat pengukur volume terdiri dari : gelas ukur, pipet pemindah, dan labu ukur.
5. Labu gelas terdiri dari labu alas datar, labu alasa bulat, dan erlenmeyer.
Erlenmeyer digunakan sebagai tempat yang akan di titrasi, sedangkan alat yang lain untuk mengencerkan zat.
6. Tabung reaksi dan alat penjepit. Tabung reaksi digunakan untuk mereaksikan suatu zat kimia dalam jumlah kecil. Untuk memegang tabug reaksi setelah di panaskan digunakan alat penjepit tabung.
Penggunaan alat-alat di atas dengan tepat sangat penting untuk di ketahui agar pekerjaan yang kita lakukan berjalan sesuai dengan prosedurnya. Misalkan pada penggunaan biuret hal yang harus diperhatikan antara lain, dalam menggunakan harus tegak lurus, pengosongan biuret tidak boleh terlalu cepat, dan pembacaan minicus harus tepat. Kesalahan dalam penggunaan alat-alat ini dapat mempengaruhi hasil yang akan di peroleh.


B. Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah agar praktikan dapat mengenali dan memahami fungsi dari alat-alat yang digunakan di laboratorium, khususnya biokimmia.

`






















II. TINJAUAN PUSTAKA
Pada dasarnya setiap alat memiliki nama yang menunjukkan kegunaan alat, prinsip kerja atau proses berlangsungnya ketika alat digunakan. Beberapa kegunaan dapat dikenali berdasarkan namanya. Penamaan alat-alat yang berfungsi mengukur biasanya diakhiri dengan kata meter seperti thermometer, spektometer dan lain-lain (Taiyeb, 2006).
Secara umum fungsi setiap alat diberikan secara umum, karena tidak mungkin semua fungsi diutarakan, dalam melakukan kegiatan di laboratorium. Untuk memudahkan dalam memahami alat-alat laboratorium dapat digunakan dalam waktu relative lama dan dalam keadaan baik, perlu pemeliharaan dan penyimpanan yang memadai (Wirjosoemarto, 2004).
Porselen sebagai bahan pembuat alat laboratorium mempunyai keunggulan tahan (resistant) terhadap suhu tinggi. Pada permukaan alat terbuat dari porselen biasanya diupam (glazir), sehingga bahan porselen tidak tembus sinar. Selain bahan porselen, masih ada lagi bahan alat laboratorium yang terbuat dari plastic. Plastik dapat dikelompokkan menjadi beberapa kelompok tergantung dari bahan
penyusunnya. Coba perhatikan alat laboratorium, misalnya corong, botol kimia, atau gelas kimia. Alat-alat tadi dapat bersifat keras atau lentur, atau tembus sinar, tembus pandang atau tidak tembus sinar. Hal tersebut disebabkan karena bahannya berbeda. Bahan penyusun plastic berupa Polythene, Polypropylene, PVC dan Styrene (Wirjosoemarto, 2004).
Melakukan suatu percobaan di laboratorium, kadang-kadang harus dipilih bahan peralatan yang cocok, sehingga tidak keliru atau salah pengertian mengenai sifat bahan peralatan tersebut. Peralatan gelas harus selalu bersih, yaitu dicuci dengan larutan deterjen yang cukup hangat. Bila memungkinkan perlu dibilas dengan basa atau asam, lalu dibilas sekali lagi dengan air bersih. Sebelum digunakan, peralatan gelas tersebut dibilas sekali lagi dengan larutan yang akan digunakan yang akan di simpan dalam peralatan tersebut. Peralatan gelas seperti pipet, labu takar dan lain- lain, sangat teliti dan merupakan produksi kerajian dan teknologi yang berkualitas tinggi. Namun demikian ketelitian tidak akan berarti bila selama analisa, penggunaan alat dan prosedur tidak dikakukan dengan cermat dan tepat (Hala, 2009).
Menurut Junaidi (2009) Cara kerja sterilisasi adalah cara kerja agar terhindar dari kontaminasi, cara kerja steril ini digunakan pada pembuatan media, pemeriksaan kultur dan pembuatan preparat. Sterilisasi dapat dilakukan secara;
1. Fisik di bagi menjadi beberapa bagian antara lain:
a.”Hot air Sterilization” oven. Bahan dari gelas dibungkus dengan alumunium
foil, suhu 170-250°C selama 2 jam.
b. Panas basah dengan tekanan, suhu 121°C selama 15 menit. Alat yang
digunakan adalah autoclav caranya: alat-alat gelas dibungkus lagi dengan
alumunium foil.
c. Pressure Cooker, caranya: panaskan air mendidih, biarkan klep uap terbuka
agar keluar uap kemudian klep uap ditutup, lihat suhu dan tekanan, bila suhu telah 121°C dengan tekanan 1,5 atm, dijaga konstan selama 15 menit. Kemudian buka klep uap hingga tercapai tekanan nol, dan setelah suhu mencapai suhu kamar, alat dan bahan dikeluarkan.
1.Kimia yaitu dengan menggunakan zat-zat kimia seperti desinfektan, antiseptik
2.Radiasi yaitu dengan menggunakan sinar Ultraviolet, biasanya digunakan pada
ruangan dan alat-alat plastik.
3.Filter yaitu dengan menggunakan membran filter dan Vacum Pump
Pensterilan dengan uap tekanan dilakukan dalam outoklaf. Dalam outoclaf ini uap berada dalam keadaan jenuh, dan peningkatan tekanan mengakibatkan suhu yang tercaoai lebuh tinggi, yaitu dibawah tekanan 15 ib (2 ATM). Suhu dapat meningkat mencapai 121 derajat Celcius. Bila uap itu dicampur dengan udara yang sama banyak, pada tekana yang sama, maka suhu yang tercapai hanya 110oC. Itu sebabnya udara dalam outoclaf harus dikeluarkan sampai habis untuk memperoleh suhu yang diinginkan (121 derajat celcius). Dalam suhu tersebut mikroorganisme dapat dimusnahkan dalam waktu yang tidak lama yaitu sekitar 15-20 menit
(Irianto, 2006).


III. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
A.Tempat Dan Waktu
Ppraktikum pengenalan alat ini dilaksanakan di Laboratorium Kimia Hasil Pertanian Jurusan Teknologi Pertanian, pada hari senin 20 September 2010 pukul 08.30 WIB.

B. Alat Dan Bahan
Adapun alat yang digunakan dalam prakrikum Pengenalan Alat ini yaitu: pipet ukur, gelas ukur, spatula besi, pipet volume, erlenmeyer, spatula gelas, pipet tetes, corong, ball pipet, thermometer, labu ukur, tabung reaksi dan beaker gelas.

C. Cara kerja
Adapun cara kerja dari praktikum kali ini yaitu mendengarkan penjelasan asisten tentang alat lalu setelah dijelaskan para praktikan mencatat nama, fungsi, cara kerja alat dan menggambar










IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
No Nama Alat Fungsi Cara Kerja Gambar
1 Beker gelas Untuk mengambil larutan dalam larutan tertentu Bersihkan terlebih dahulu dan keringkan kemudian dapat di pakai untuk mengambil larutan.

2 Labu Ukur Tempat membua larutan atau pengenceran Masukkan larutan yang akan diencerkan sesuai volume yang di inginkan
3 Gelas Ukur Untuk mengambil larutan dalam skala tertentu Masukan cairan, perhatriakan tinggi larutan sampai volume yang diinginkan
4 Biuret Untuk penetrasi dimana didalamnya terdapat alat titran Larutan penitrasi dimasukkan kedalam biuret sampai volume penuh kemudian buka kran secara perlahan hingga terjadi tetesan dan arahkan k4elarutyan yang akan di titrasi
5. Spatula Untuk megaduk sesuat atau mengambil larutan Cuci terlebih dahulu,dan keringkan kemudisn aduk larutan ang akan di campur
6. Erlenmeyer Tempat larutan sementara sebelum dititrasi Masukan larutan yang akan di titrasi
7. Pipet volume Untuk memindahkan larutan dalam skala tertentu Dapat digunakan dengan Ball pipet
8. Pipet ukur Untuk memindahkan larutan dalam skala tertentu Dapat digunakan dengan Ball pipet
9 Pipet tetes Untuk mengambil sejumlah larutan dalam skala kecil Masukan pipet kedalam cairan, tekan karet, lalu lepaskan secara perlahan dan angkat pipet dari cairan tersebut.
10 Corong Untuk memisahkan larutan dari masa jenis berbeda Letakkan corong pada gelas ukur atau labu ukur lalu tuangkan larutan melalui corong.
11 Tabung reaksi Tempat untuk melarutkan suatu larutan Masukan zat kimia yang akan di reaksikan
12 Mortal Untuk menghancurkan atau menghaluskan zat. Taruh zat atau bahan yang akan dihancurkan kedalam mortar lalu tumbuk
13 Penjepit tabung Untuk menjepit tabung reaksi pada saat pemanasan. Tekan bagian penjepit tabung, letakkan tabung reaksi ke penjepit.
14 Neraca analitik Untuk menimbang jumlah zat yang akurat. Taruh bayhan yang digunakan pada neraca,atat berat yang di tunjukan.
15 Kurs porselen Sebagai tempat pengabuhan Taruh bahan yang akan digunakan dan dipanaskan.
16 Hot plate Digunakan untuk pemanasan diatas 100◦C Hidupkan alat, atur tuas suhu letakkan
Diatas bahan yang ingin dipanaskan.
17 Ball pipet Biasanya di gunakan untuk mengambil zat asam pekat. Tombol A untuk mengempeskan, tombol S untuk menghisap larutan, dan tombol E untuk mengeluarkan larutan
18 Kondensor Untuk pendinginan balik dalam analisa lemak Masukan larutan yang akan di dinginkan dalam analisa lemak.
19 Kertas saring Untuk memisahkan / menyaring zat cair dengan zat padat. Letakkan kertas saring di dalam erlenmeyer, lalu tuangkan perlahan larutan yang akan di pisahkan.
20 Spatula besi Memindahkan zat padat Ambil bahan yang berupa padatan dengan menggunakan ujung spatula yang berbentuk seperti sendok
21 Termometer Mengukur suhu Ketika mengukur jangan dipegang bagian termometernya.
22 Water bath Untuk pemanasan dibawah 100◦C Letakkan tabung reaksi pada water bath lalu nyalakan waterbath tunggu sampai panas.



B. Pembahasan
Adapun pembahasan yang dapat saya ambil dari praktikum pengenalan alat yaitu praktikum ini memiliki tujuan agar kita sebagai praktikan dapat mengenal dan mengetahui tentang cara kerja, fungsi dan perawatan alat tersebut agar alat- alat yang kita gunakan dapat bertahan lama. Alat-alat yang digunakan laboratorium biasanya memiliki fungsi dan cara kerja yang berbeda-beda.
Apabila kita telah mengetahui cara kerja sekaligus fungsi alat-alat laboratorium dapat mempermudah kita dalam melaksanakan praktikum setelah kita mengetahuinya satu per satu. Alat-alat laboratorium dibagi menjadi beberapa jenis yaitu alat-alat yang terbuat dari kaca atau gelas. Alat-alat yang terbuat dari gelas atau kaca ini bersifat mudah pecah. Oleh karena itulah kita harus mengetahui cara menjaga alat tersebut.
Setelah kita mengenal dan mengetahui fungsi dan cara kerja masing-masing alat dapat menghindari kita dari kesalahan penggunaan alat tersebut. Karena apabila kita tidak mengetahui cara kerja dan fungsi masing-masing alat, kita dapat melakukan kesalahan yang nantinya dapat berbahaya bagi kita maupun praktikan yang lainnya. Kesalahan yang sekecil apapun dapat merubah hasil dari praktikum kita.
Beberapa contoh alat yang digunakan dalam laboratorium yaitu gelas ukur digunakan untuk mengambil zat cair dengan ketepatan kira-kira. Labu ukur digunakan sebagai tempat pengencer larutan. Ball pipet memiliki fungsi untuk mengambil larutan dan mengeluarkan larutan. Ball pipet memiliki 3 bagian dimana bagian yang bertanda E untuk mengempeskan ball pipet, bagian A untuk mengeluarkan larutan dan bagian S memiliki fungsi untuk mengambil larutan.
Adapun alat untuk mengambil larutan yaitu pipet. Pipet ini memiliki bebetapa jenis yaitu pipet tetes untuk mengambil larutan dengan ketepan yang lebih baik daripada labu ukur, pipet volume dengan volume 10 ml untuk mengambil larutan yang terbatas dan pipet ukur digunakan untuk mengambil larutan dengan ketepatan yang lebih baik.
Spatula ada yang terbuat dari kaca dan besi. Spatula besi terbuat dari besi dengan memiliki 2 sisi yang satu berbentuk sendok yang nantinya digunakan untuk mengaduk larutan dan yang lain berbentuk seperti sekop yang berguna untuk mengambil sampel dan memindahkan zat padat. Spatula kaca memiliki 1 sisi yang berbentuk sendok berfungsi untuk mengaduk larutan dan terbuat dari kaca.
Corong pemisah digunakan untuk memisahkan larutan gumnna mendapatkan hasil yang di peroleh dalam praktikum, tabung reaksi untuk mereaksikan suatu zat dalam jumlah yang kecil, neraca analitik berfungsi untuk menimbang sejumlah zat, rak tabung reaksi digunakan untuk meletakkan tabung reaksi, kondensor di gunakan untuk penetrasi lemak, mortal digunakan untuk menghancurkan zat atau bahan untuk di haluskan.












V. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari percobaan pengenalan alat ini didapat adalah sebagai berikut.
1. Praktikan dapat mengenal macam – macam alat dan bahan yang di gunakan dalam laboratorium biokimia.
2. Dapat mengetahui fungsi dan cara kerja alat –alat yang di gunakan di dalam laboratorium biokimia.
3. Dapat mengetahui beberapa bahan dan alat yang berbahaya di laboratorium.
4. Kesalahan dalam penggunaan alat akan mempengaruhi hasil yang di peroleh.
5. Sebelum praktikum alat – alat yang digunakan sebaaiknya dalam keadaan steril.

B. Saran
Adapun saran saya , selain mengetahui jenis-jenis alat yang ada di dalam laboratorium maka kita juga harus mengetahui bagaimana cara merawat alat-alat tersebut agar tidak mudah terjadinya kerusakan atau pecah.











DAFTAR PUSTAKA
Lahay, Tutje. 2004. Teknik Laboratorium. Jurusan Biologi FMIPA UNM. Makassar.
Ginting, Tjurmin. 2003. Penentuan Praktikum Kimia Dasar I. Universitas Sriwijaya. Palembang.
Wirjosoemarto.K, dkk. 2004. Teknik Laboratorium. Jica. IMSTEP
Ali, Alimuddin. 2005. Mikrobiologi Dasar Jilid I.: Badan enerbit Universitas Negeri Makassar. Makasar.
Irianto, Koes. 2007.Mik robiologi. Yrama Widya. Bandung.
Junaidi, Wawan. 2010. Definisi Sterilisasi.http://w aw an- junaidi.blogs pot.com /2009/ 07/definisi-sterilisasi.html . Diakses pada tanggal 25 September 2010.
Hala, Yusminah, Oslan Jumadi. 2009. Penuntun Praktikum Mikrobiologi Dasar. Jurusan Biologi FMIPA UNM. Makassar.
Taiyeb, M. 2006. Pengenalan Alat Laboratorium. Jurusan Biologi FMIPA UNM. Makassar.
Anonim, 2010. Pengenalan Alat (Online) http:// all4chemistry.blogspot.com /2010/02/ pengenalan-alat-laboratorium.html. diakses 25 September 2010

karbohidrat

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Karbohidrat atau sakarida adalah polihidroksi aldehid atau polihidroksi keton, atau senyawa yang dihidrolisis dari keduanya. Unsur utama dari penyusun karbohidrat adalah unsur karbon (C), hidrogen (H) dan oksigen (O). jumlah atom hidrogen dan oksigen memiliki perbandingan 2 : 1 seperti pada molekul air. Karena perbandingan tersebut orang dahulu menduga karbohidrat merupakan penggabungan dari “karbon” dan “hidrat atau air” sehingga molekul ini disebut karbohidrat. Walaupun penamaan ini tidak tepat, molekul ini tetap dinamakan karbohidrat hingga sekarang (Toha, 2005).
Karbohidrat berasal dari bahasa Jerman, yaitu “Kohlenhydrate” dan dari bahasa Perancis, yaitu “Hydrate de Carbon”. Penamaan ini didasarkan atas komposisi unsur karbon yang mengikat hidrogen dan oksigen dalam perbandingan yang selalu sama seperti pada molekul air yaitu perbandingan 2 : 1. Karbohidrat memegang peranan penting dalam system biologis khususnya dalam respirasi. Karbohidrat dihasilkan oleh proses fotosintesis di dalam tanaman – tanaman berdaun hijau. Karbohidrat dapat dioksidasi menjadi energi, misalnya glukosa dalam sel jaringan manusia dan hewan. Fermentasi karbohidrat oleh khamir atau mikroba lain dapat menghasilkan CO2, alkohol, asam organik dan zat – zat organik
(Anonim, 2010).
Karbohidrat merupakan pusat dari metabolisme tanaman hijau dan organism fotosintetik lain yang menggunakan energi matahari untuk melakukan pembentukan karbohidrat. Karbohidrat yang terdapat dalam bentuk pati dan gula berfungsi sebagai bahan utama energi yang dikonsumsi oleh kebanyakan organism di muka bumi ini. Sebagai pati dan glikogen, karbohidrat berfungsi sebagai penyedia sementara glukosa. Karbohidrat dapat juga berfungsi sebagai penyangga di dalam dinding sel bakteri dan tanaman serta pada jaringan pengikat dan dinding sel organisme hewan. Karbohidrat jenis lain dapat berperan sebagai pelumas sendi kerangka, sebagai perekat diantara sel dan senyawa pemberi spesifitas biologi pada permukaan sel hewan (Toha, 2005).
Karbohidrat merupakan sumber energi bagi aktifitas kehidupan manusia disamping protein dan lemak. Di Indonesia kira – kira 80 – 90% kebutuhan energi berasal dari karbohidrat, karena bahan makanan pokok yang biasa dimakan sebagian besar mengandung komponen karbohidrat seperti beras, jagung, sagu dan lain – lain. Sedangkan di Amerika sumber energi berasal dari karbohidrat 46%, lemak 42% dan protein 12% (Anonim, 2010).
Menurut Baliwati (2004), Karbohidrat merupakan simpanan energi bagi tumbuh-tumbuhan. Bagi manusia, karbohidrat berfungsi sebagai energi, bahan pembentuk berbagai senyawa tumbuhanbahan pembentuk asam amino esensial, metabolisme normal lemak, penghemat : protein, meningkatkan pertumbuhan bakteri usus, mempertahankan gerak usus (terutama serat) meningkatkan komsumsi protein, mineral, dan vitamin B. Pangan sumber karbohidrat adalah beras, ubi jalar, singkong, kentang, pisang, sagu ,gandum (Purba, 2006).

B. Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum kerbohidrat ini yaitu mengetahui sifat – sifat dari karbohidrat.











II. TINJAUAN PUSTAKA
Karbohidrat digolongkam menjadi monosakarida, disakarida dan polisakarida. Penggolongan itu didasarkan pada reaksi hidrolisisnya. Monosakarida adalah karbohidrat paling sederhana yang tidak dapat dihidrolisis lagi menjadi karbohidrat yang paling sederhana. Disakarida adalah karbohidrat yang dapat dihidrolisis menjadi dua molekul monosakarida. Sedangkan polisakarida adalah karbohidrat yang dapat dihidrolisis menjadi banyak molekul monosakarida
(Purba, 2006).
Fungsi utama karbohidrat dalam makanan adalah untuk menyediakan energi bagi pekerjaan tubuh . karbohidrat juga memungkinkan tubuh membuat vitamin B kompleks. Karbohidrat merupakan bagian dari susunan ramuan – ramuan biologis. Disamping itu karbohidrat menambah rasa (aroma) pada makanan kita. Karbohidrat dapat diprediksi secara ekonomis dalam jumlah yang banyak. Sifat inilah yang membantu mayoritas rakyat di dunia ini untuk bertahan hidup (Damon, 2006).
Menurut Toha (2005), karbohidrat terdiri dari berbagai senyawa yang sangat melimpah dialam. Senyawa yang termasuk dalam biomolekul ini dapat digolongkan dalam berbagai macam penggolongan karbohidrat yang dapat didasarkan bentuk cincin sikliknya, yaitu golongan frunosa, bila karbohidrat tersebut mempunyai cincin beranggota 5 dan piranosa, bila mempunyai cincin beranggotakan 6. Atom karbon molekul gula dinomori mulai dari ujung yang paling dekat dengan aldehid atau keton.
Ada beberapa jenis karbohidrat yaitu karbohidrat sederhana dan karbohidrat kompleks. Karbohidrat sederhana terdiri dari :
a. Monosakarida
Sebagian besar monosakarida dikenal sebagai heksosa, karena terdiri atas 6-rantai atau cincin karbon. Atom – atom hidrogen dan oksigen terikat pada rantai atau cincin ini secara terpisah atau sebagai gugus hidroksil (OH). Ada tiga jenis heksosa yang penting dalam ilmu gizi, yaitu glukods, fruktosa, dan galaktosa. Ketiga macam monosakarida ini mengandung jenis dan jumlah atom yang sama, yaitu 6 atom karbon, 12 atom hidrogen, dan 6 atom oksigen. Perbedaannya hanya terletak pada cara penyusunan atom – atom hidrogen dan oksigen di sekitar atom - atom karbon. Perbedaan dalam susunan atom inilah yang menyebabkan perbedaan dalam tingkat kemanisan, daya larut, dan sifat lain ketiga monosakarida tersebut. Monosakarida yang terdapat di alam pada umumnya terdapat dalam bentuk isomer dekstro (D). gugus hidroksil ada karbon nomor 2 terletak di sebelah kanan. Struktur kimianya dapat berupa struktur terbuka atau struktur cincin. Jenis heksosa lain yang kurang penting dalam ilmu gizi adalah manosa. Monosakarida yang mempunyai lima atom karbon disebut pentosa, seperti ribosa dan arabinosa (Anonim, 2010).
b. Disakarida
Senyawa yang termasuk oligosakarida mempunyai molekul yang terdiri atas beberapa molekul monosakarida. Dua molekul yang berkaitan satu dengan yang lainnya, membentuk satu molekul disakarida. Oligosakarida yang lain adalah trisakarida yaitu yang terdiri atas tiga molekul monosakarida dan tetrasakarida yang terbentuk dari empat molekul monosakarida. Oligosakarida yang paling banyak di alam adalah disakarida. Contoh yang paling umum dari disakarida adalah sukrosa (atau sakarosa). Oligosakarida yang mengandung tiga, empat atau lebih unit monosakarida sangat jarang terdapat di alam, meskipun dapat dijumpai dalam jumlah sedikit dalam dunia tanaman (Tri, 2010).
- Sukrosa
Sukrosa (gula tebu) dapat dihidrolisa baik secara enzimatik maupun secara kimia untuk menghasilkan suatu campuran keseimbangan dari glukosa dan fruktosa yang lebih manis untuk berat yang sama daripada sukrosa. Campuran ini disebut gula invert karena hidrolisa disertai dengan pembalikan pemutaran optik dari searah jarum jam (dekstrorotasi) menjadi lawan jarum jam (levorotasi). Madu merupakan bentuk yang terdapat di alam yang terdiri sebagian besar dari gula invert. Sedangkan untuk laktosa atau gula susu hanya terdapat dalam susu. Laktosa dengan hidrolisa menghasilkan D-galaktosa dan D-glukosa (Soeharsono, 2007).
- Laktosa
Karbohidrat khas susu ialah laktosa atau gula susu. Dengan sedikit kekecualian kecil, dapat dinyatakan bahwa laktosa adalah gula satu satunya dalam susu semua spesies dan tidak terdapat ditempat lain. Laktosa merupakan komponen utama bahan kering susu sapi, karena mencakup hampir 50 persen dari bahan padat total. Kandungan laktosa susu sapi mempunyai rentang mulai dari 4,4 sampai 5,2 persen dengan rata rata 4,8 persen dinyatakan sebagai laktosa tanair. Kandungan laktosa susu manusia lebih tinggi, sekitar 7,0 persen. Laktosa merupakan disakarida yang terdiri atas D-glukosa dan D-galaktosa dan disebut secara kimia 4-O-β-D-galaktopiranosil-D-glukopiranosa. Laktosa dapat dihidrolisis dengan enzim β-D-galaktosidase (laktase) dan dengan larutan encer asam kuat (Soeharsono, 2007).
- Maltosa
Maltosa adalah 4-α-D-glukopiranosil-β-D-glukopiranosa. Maltosa merupakan produk akhir utama penguraian pati dan glikogen oleh enzim β-amilase dan berciri baurasa malt. Maltosa merupakan disakarida mereduksi, merupakan mutarotasi, dapat difermentasi, dan mudah larut dalam air. Selebiosa adalah 4-β-D-glukopiranasil-β-D-glukopiranosa, disakarida mereduksi sebagai hasil hidrolisis sebagian selulosa. Polong-polongan mengandung beberapa oligosakarida termasuk rafinosa dan stakiosa. Gula ini sukar diserap jika dicerna, yang mengakibatkan pembentukan gas dan terkumpulnya gas dalam perut (Flatulens), yang menjadi penghalang meluasnya penggunaan polong-polongan sebagai makanan (Soeharsono, 2007).
Sedangkan karbohidrat kompleks itu terdiri dari (Anonim, 2010):
a. Polisakarida
Karbohidrat kompleks ini dapat mengandung sampai tiga ribu unit gula sederhana yang tersusun dalam bentuk rantai panjang lurus atau bercabang. Jenis polisakarida yang penting dalam ilmu gizi adalah pati, dekstrin, glikogen, dan polisakarida nonpati (Anonim, 2010).
Pati merupakan simpanan karbohidrat dalam tumbuh-tumbuhan dan merupakan karbohidrat utama yang dimakan manusia di seluruh dunia. Pati terutama terdapat dalam padi-padian, biji-bijian, dan umbi-umbian. Jumlah unit glukosa dan susunannya dalam satu jenis pati berbeda satu sama lain, bergantung jenis tanaman asalnya. Bentuk butiran pati ini berbeda satu sama lain dengan karakteristik tersendiri dalam hal daya larut, daya mengentalkan, dan rasa. Amilosa merupakan rantai panjang unit glukosa yang tidak bercabang, sedangkan amilopektin adfalah polimer yang susunannya bercabang-cabang dengan 15-30 unit glukosa pada tiap cabang (Anonim, 2010).
Dekstrin merupakan produk antara pada perencanaan pati atau dibentuk melalui hidrolisis parsial pati. Dekstrin merupakan sumber utama karbohidrat dalam makanan lewat pipa (tube feeding). Cairan glukosa dalam hal ini merupakan campuran dekstrin, maltosa, glukosa, dan air. Karena molekulnya lebih besar dari sukrosa dan glukosa, dekstrin mempunyai pengaruh osmolar lebih kecil sehingga tidak mudah menimbulkan diare. Glikogen dinamakan juga pati hewan karena merupakan bentuk simpanan karbohidrat di dalam tubuh manusia dan hewan, yang terutama terdapat di dalam hati dan otot. Dua pertiga bagian dari glikogen disimpan dalam otot dan selebihnya dalam hati. Glikogen dalam otot hanya dapat digunakan untuk keperluan energi di dalam otot tersebut, sedangkan glikogen dalam hati dapat digunakan sebagai sumber energi untuk keperluan semua sel tubuh. Kelebihan glukosa melampaui kemampuan menyimpannya dalam bentuk glikogen akan diubah menjadi lemak dan disimpan dalam jaringan lemak (Anonim, 2010).
b. Polisakari dan Nonpati/Serat
Serat akhir-akhir ini banyak mendapat perhatian karena peranannya dalam mencegah berbagai penyakit. Ada dua golongan serat yaitu yang tidak dapat larut dan yang dapat larut dalam air. Serat yang tidak larut dalam air adalah selulosa, hemiselulosa, dan lignin. Serat yang larut dalam air adalah pektin, gum, mukilase, glukan, dan algal (Anonim, 2010).










III. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
A. Waktu dan Tempat
Adapun waktu dan tempat praktikum karbohidrat ini dilaksanakan di Laboratorium Kimia Hasil Pertanian Jurusan Teknologi Pertanian pada hari senin pada pukul 08.30 – selesai WIB.

B. Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan yang digunakan pada praktikum karbohidrat ini yaitu pipet tetes, beaker gelas, tabung reaksi, gelas ukur, pereaksi benedict, maltosa, glukosa, fruktosa, pereaksi fehling, glukosa, pati, NaOH, CuSO4, Na sitrat, H2SO4 dan pereaksi molisch.

C. Cara Kerja
1. Uji Molisch
a. Kedalam tabung reaksi masing – masing masukkan 5 mL glukosa 0,1 M + tetes pereaksi molisch.
b. Kocok merata + perlahan – lahan H2SO4 pekat 3 mL melalui dinding tabung.
c. Amati warna yang terjadi.
2. Uji Reduksi
a. Kedalam tabung reaksi (a) masukkan 2 mL CuSO4 1% , 2 mL NaOH 10%.
b. Tabung reaksi (b) masukkan 2 mL CuSO4 1% , 2 mL NaOH 10% dan 5 tetes glukosa 1%.
c. Tabung reaksi (c) 1 mL CuSO4 1% , 1 mL NaOH 10% dan Na sitrat 30% sampai endapan yang terbentuk melarut kembali.
d. Panaskan ketiga tabung tersebut kedalam air mendidih perhatikan perubahan yang terjadi.
e. Kedalam tabung (c) tambahkan beberapa tetes larutan glukosa 1% dan panaskan kembali.
f. Catat hasil dan lihatkan pada asisten.
3. Uji Benedict
a. Masukkan dalam tabung reaksi 3 mL pereaksi benedict dan 5 tetes bahan percobaan aduk merata.
b. Didihkan campuran tersebut selama 5 menit dan biarkan menjadi dingin.
c. Perlihatkan hasil percobaan pada asisten dan catat hasilnya.
4. Uji Fehling
a. Kedalam tabung reaksi masukkan 2 mL Fehling.
b. Tambahkan beberapa tetes larutan percobaan.
c. Didihkan dan amati perubahan warna.



















IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Uji fehling Warna awal Warna akhir
Sukrosa
Fruktosa
Glukosa Biru muda
Biru muda
Biru muda Sedikit biru tua dibawah
Biru muda tapi lebih bening
Biru muda dari sebelumnya
Uji molisch Warna awal Warna akhir
Glukosa
Fruktosa
Sukrosa
Maltosa
Pati Bening
Bening
Bening
Bening
Keruh Bening
Dibawah coklat tua, diatas coklat muda
Ungu pekat
Ungu pudar
Dibawah ungu, diatas keruh
Uji benedict Warna awal Warna akhir
Sukrosa
Maltosa
Glukosa
Laktosa Bening agak keruh
Bening agak keruh
Bening agak keruh
Bening agak keruh Kuning agak kecoklatan
Kuning muda
Kuning kecoklatan tua
Kuning tua
Uji reduksi Warna Awal Warna akhir
Tabung A
Tabung B
Tabung C Biru
Biru
Biru Biru sedikit coklat
Coklat kehitaman
Hijau lumut

B. Pembahasan
Uji molisch adalah uji kimia kualitatif untuk mengetahui adanya karbohidrat. Uji molisch dinamai sesuai penemunya yaitu Hans Molisch, seorang ahli botani dari Australia. Uji ini didasari oleh reaksi dehidrasi karbohidrat oleh asam sulfat yang membentuk cincin furfural berwarna ungu. Reaksi positif ditandai dengan munculnya cincin ungu dipermukaan antara lapisan asam dan lapisan sampel (Monrow, 2010).
Dari hasil yang didapat dapat dikatakan bahwa beberapa sampel pada uji molisch semuanya mempunyai sifat atau bentu dari karbohidrat. Baik itu karbohidrat dari jenis sederhana maupun karbohidrat kompleks.
Uji berikutnya yaitu uji benedict. Uji benedict termasuk salah satu uji kimia untuk mengetahui kandungan gula (karbohidrat) pereduksi. Gula pereduksi meliputi semua jenis monosakarida dan beberapa disakarida seperti laktosa dan maltosa. Pada uji benedict, pereaksi ini akan bereaksi dengan gugus aldehid kecuali aldehid dalam gugus aromatik dan alpha hidroksi keton. Oleh karena itu, meskipun fruktosa bukanblah gula pereduksi, namun karena memiliki gugus alpha hidroksi keton, maka fruktosa akan berubah menjadi glukosa (Wahyu, 2010).
Dari hasil yang didapat menunjukkan bahwa pada beberapa sampel yang menunjukkan adanya hasil positif untuk menunjukkan adanya karbohidrat yaitu pada semua sampel akan tetapi hasil yang paling tinggi kandungannya yaitu pada sukrosa dan galaktosa.
Uji reduksi bertujuan untuk mengetahui adanya gugus aldehid. Reagen yang digunakan dalam pengujian ini adalah Fehling A (CuSO4) dan Fehling B (NaOH dan KNa tartarat). Pemanasan dalam reaksi ini bertujuan agar gugus aldehida pada sampel terbongkar ikatannya dan dapat bereaksi dengan ion OH- membentuk asam karboksilat. Cu2O (endapan merah bata) yang terbentuk merupakan hasil sampingan dari reaksi pembentukan asam karboksilat (Anonim, 2010).
Dari hasil yang didapat menunjukkan adanya karbohidrat yaitu pada semua tabung. Hasil ini bisa didapat karena adanya endapan merah bata misalnya pada tabung A yaitu hasilnya biru sedikit coklat.
Adanya perbedaan hasil reaksi yang terjadi pada ketiga tabung A,B,C karena pada tabung A yang merupakan campuran dari CuSO4 dan NaOH tidak terdapat glukosa yang merupakan senyawa pereduksi atau gula pereduksi yang hasil reaksinya adalah adanya perubahan warna menjadi agak bening dan adsnya endapan. Pada tabung B larutannya sama dangan padatabung A tapi bedanya pada tabung B telah ditambahkan glukosa dimana hasil reaksi yang terjadi adalah berubah warna menjadi warna orange dan adanya endapan. Sedangkan padfa tabung C tidak terdapat glukosa tetapi ditambahkan larutan Na-nitrat yang setelah dipanaskan tidak terjadi reaksi perubahan.
Pada tabung C ditambahkan beberapa tetes larutan glukosa 1% dan selanjutnya dipanaskan kembali. Pada reaksi ini terjadi beberapa perubahan setelah dipanaskan kembali. Setelah dipanaskan dan ditambahkan glukosa terjadi perubahan warna yaitu menjadi coklat. Hal ini disebabkan karena adanya pengaruh gula pereduksi dalam ini glukosa.























V. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum karbohidrat kali ini yaitu sebagai berikut :
1. Jika golongan karbohidrat direaksikan dengan fehling A+B maka akan diperoleh endapan merah bata bila positif bereaksi dan larutan berwarna biru bila bereaksi negative.
2. Karbohidrat terbagi dari beberapa jenis yaitu karbohidrat sederhana dan karbohidrat kompleks.
3. Pereaksi yang digunakan untuk membuktikan adanya karbohidrat yaitu dengan uji fehling, uji molisch, uji benedict dan uji reduksi.
4. Pada uji benedict, pereaksi ini akan bereaksi dengan gugus aldehid kecuali aldehid dalam gugus aromatik dan alpha hidroksi keton.
5. Pada uji molisch, reaksi positif ditandai dengan munculnya cincin ungu dipermukaan antara lapisan asam dan lapisan sampel.

B. Saran
Adapun saran yang dapat diberikan yaitu agar alat – alat laboratorium ditambah lagi karena kemarin penggunaan alat harus bergantian sehingga waktu menjadi tidak efektif.








DAFTAR PUSTAKA
Purba, Michael. 2006. ”Kimia untuk SMA Kelas XII Semester 1”.Erlangga. Jakarta.
Yusuf, S. 2003. Penuntun kimia Organik. Universitas Sriwijaya. Palembang.
Jalip, IS. 2008. Praktikum Kimia Organik, Edisi kesatu. Laboratorium Kimia Universitas Nasional. Jakarta
Riyadi, Wahyu.2010.Uji Benedict. (http://wahyuriyadi.blogspot.com/2009/10/uji-benedict-adalah-uji-kimia-untuk.html) diakses 30 September 2010
Monrow.2010.Uji Molisch. http://monruw.wordpress.com/2010/03/12/uji-molisch/ diakses 29 September 2010
Anonim. 2010. Karbohirat. http://www.gudangmateri.com/2009/12/uji karbohidrat.html diakses 29 September 2010
Anonim.2010.Karbohidrat.http://cintakupadamu ariesz.blogspot.com/2010/03/karbohidrat.html diakses 29 September 2010
Damon, G Edwad. 2006. Populary Science : Part of Carbohidrate, Fat and Mineral.Glolier International. Jakarta.
Martoharsono, Soeharsono. 2007. Biokimia. Gadjah Mada University Press.: Yogyakarta
Toha, A.H.A. 2005. Biokimia : Metabolisme Biomolekul. Alfabeta. Bandung.

lemak

I. PENDAHULUAN
Lipid merupakan substansi biologis yang tidak larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut -pelarut organik yang bersifat kurang polar, seperti kloroform dan eter. Lipid bukanlah satu golongan senyawa dengan rumus empiris atau struktur yang memiliki ke khassan, tetapi terdiri atas beberapa golongan yang berbeda (Purba, 2007 ).
Menurut Bambang et.al (2007) Lemak merupakan komponen penting dalam setiap sel, yang terdiri dari unsure-unsur C, H dan O. seperti halnya karbohidrat, lemak merupakan substrat penting dalam proses respirasi. Lemak disintesis dari protein atau karbohidrat melalui asetil koenzim A dan gliserol yang berasal dari PGAL ( fosfogliseraldehida). PGAL merupakan zat antara dalam peristiwa glikolisis dan daur Krebs.
Lemak dan minyak adalah salah satu kelompok yang termasuk pada golongan lipid , yaitu senyawa organik yang terdapat di alam serta tidak larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut organik non-polar,misalnya dietil eter (C2H5OC2H5), Kloroform(CHCl3), benzena dan hidrokarbon lainnya, lemak dan minyak dapat larut dalam pelarut yang disebutkan di atas karena lemak dan minyak mempunyai polaritas yang sama dengan pelaut tersebut (Ginting, 2005).
Lemak merujuk pada sekelompok besar molekul-molekul alam yang terdiri atas unsur-unsur karbon, hidrogen, dan oksigen meliputi asam lemak, malam, sterol, vitamin-vitamin yang larut di dalam lemak (contohnya A, D, E, dan K), monogliserida, digliserida, fosfolipid, glikolipid, terpenoid (termasuk di dalamnya getah dan steroid) dan lain-lain (Anonim, 2010).
Lemak secara khusus menjadi sebutan bagi minyak hewani pada suhu ruang, lepas dari wujudnya yang padat maupun cair, yang terdapat pada jaringan tubuh yang disebut adiposa. Secara umum dapat dikatakan bahwa lemak memenuhi fungsi dasar bagi manusia, yaitu:
1. Menjadi cadangan energi dalam bentuk sel lemak. 1 gram lemak menghasilkan 39.06 kjoule atau 9,3 kcal.
2. Lemak mempunyai fungsi selular dan komponen struktural pada membran sel yang berkaitan dengan karbohidrat dan protein demi menjalankan aliran air, ion dan molekul lain, keluar dan masuk ke dalam sel.
3. Menopang fungsi senyawa organik sebagai penghantar sinyal, seperti pada prostaglandin dan steroid hormon dan kelenjar empedu.
4. Menjadi suspensi bagi vitamin A, D, E dan K yang berguna untuk proses biologis
5. Berfungsi sebagai penahan goncangan demi melindungi organ vital dan melindungi tubuh dari suhu luar yang kurang bersahabat.
Lemak juga merupakan sarana sirkulasi energi di dalam tubuh dan komponen utama yang membentuk membran semua jenis sel (Martoharsono, 2008).

B. Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum lemak atau lipida kali ini yaitu untuk mengetahui sifat-sifat dari lemak.














II. TINJAUAN PUSTAKA
Lipid adalah nama suatu golongan senyawa organik yang meliputi sejumlah senyawa yang terdapat di alam yang semuanya dapat larut dalam pelarut-pelarut organik tetapi sukar larut atau tidak larut dalam air. Pelarut organik yang dimaksud adalah pelarut organik non polar, misalnya benzene, pentane, dietil eter dan karbon tetraklorida. Dengan pelarut-pelarut tersebut lipid dapat diekstrak dari sel dan jaringan tumbuhan ataupun hewan (Anonim, 2010).
Secara kimiawi, lemak tersusun dari penggabungan suatu asam lemak dengan gliserol. Lemak yang mengandung asam lemak tak jenuh biasanya berbentu cair, sedangkan lemak jenuh berbentuk padatan (Bambang, 2007).
Menurut Maria et.al (2008) komponen penyusun lemak ialah gliserol dan asam lemak :
a. Gliserol
Menutut Bambang et.al (2007), Gliserol dapat terbentuk dari trasnspormasi karbohidrat yang merupakan salah satu hasil dari fotosintesis. Reduksi terhadap dihidroksiaseton fosfat merupakan awal reaksi untuk terbentuknya gliserol.
Menurut Maria et.al (2008), gliserol disebut juga sebagai gliserin. Nama gliserol sesuai dengan IUPAC ialah 1,2,3-propanatriol. Gliserol merupakan zat cair yang tidak berwarna, netral, kental, dan rasanya manis. Gliserol dapat larut didalam air dan tidak dapat larut dalam CCl4, kloroform, dietil eter, CS2 dan benzene. Gliserol dalam keadaan murni dapat bersifat higroskopis. Dalam bidang kedokteran, gliserol digunakan sebagai pencahar. Selain itu, gliserol juga digunakan sebagai pengawet vaksin dan bahan baku pembuatan permen.
b. Asam lemak
Menurut maria et.al (2008), asam lemak adalah asam karboksilat yang diperoleh dari hidrolisis suatu lemak atau minyak. Asam lemak memiliki rantai atom C tidak bercabang dengan jumlah atom C lebih dari 10 dan gugus karoksil dari ujung rantai atom C tersebut.
Menurut Bambang et.al (2007), walaupun belum secara seksama dapat diikuti perubahan hasil fotosintesis menjadi asam lemak, tidak diragukan lagi bahwa asam lemak disusun dari karbohidrat. Hal itu dapat dibuktikan secara tidak langsung, bahwa jika cadangan karbohidrat berkurang, maka penyusunan lemak ikut berkurang pula. Adanya perubahan lemak menjadi karbohidrat ini telah berhasil dibuktikan oleh Kornberg dan Krebs (1957), melalui penelitiannya dengan label zat radioaktif yang selanjutnya diberi nama siklus glioksilat. Melalui siklus glioksilat inilah, lemak dapat diubah menjadi gula sukrosa.
Asam lemak atau asil lemak ialah istilah umum yang digunakan untuk menjabarkan bermacam-ragam molekul-molekul yang disintesis dari polimerisasi asetil-KoA dengan gugus malonil-KoA atau metilmalonil-KoA di dalam sebuah proses yang disebut sintesis asam lemak. Asam lemak terdiri dari rantai hidrokarbon yang berakhiran dengan gugus asam karboksilat; penyusunan ini memberikan molekul ujung yang polar dan hidrofilik, dan ujung yang nonpolar dan hidrofobik yang tidak larut di dalam air. Struktur asam lemak merupakan salah satu kategori paling mendasar dari biolipid biologis dan dipakai sebagai blok bangunan dari lipid dengan struktur yang lebih kompleks. Rantai karbon, biasanya antara empat sampai 24 panjang karbon, baik yang jenuh ataupun tak jenuh dan dapat dilekatkan ke dalam gugus fungsional yang mengandung oksigen, halogen, nitrogen, dand belerang. (Martoharsono, 2008).
Contoh asam lemak yang penting secara biologis adalah eikosanoid, utamanya diturunkan dari asam arakidonat dan asam eikosapentaenoat, yang meliputi prostaglandin, leukotriena, dan tromboksana. Kelas utama lain dalam kategori asam lemak adalah ester lemak dan amida lemak. Ester lemak meliputi zat-zat antara biokimia yang penting seperti ester lilin, turunan-turunan asam lemak tioester koenzim A, turunan-turunan asam lemak tioester ACP, dan asam lemak karnitina. Amida lemak meliputi senyawa N-asiletanolamina, seperti penghantar saraf kanabinoid anandamida (Poejiadi, 2004).
Asam lemak adalah asam alkanoat dengan rumus bangun hidrokarbon yang panjang. Rantai hidrokarbon tersebut dapat mencapat 10 hingga 30 atom. Rantai alkana yang non polar mempunyai peran yang sangat penting demi mengimbangi kebasaan gugus hidroksil (Winarno, 2006).
Menurut M. Purba (2007), ada beberapa macam reaksi lemak dan minyak yaitu sebagai berikut :
1. Hidrolisis
Lemak dan minyak dapat mengalami hidrolisis karena pengaruh asam kuat atau enzim lipase pembentuk gliserol dan asam lemak. Misalnya, hidrolisis gliseril tristearat akan menghasilkan gliserol dan asam stearat. Hasil hidrolisis akan memisah karena gliserol larut dalam air, sedangkan asam lemak tidak larut dalam air (Purba, 2007).
Menurut Maria et.al (2007), lemak dan minyak dapat dihidrolisis secara kimia dan enzimatis. Hidrolisis lemak dan minyak secara kimia dengan penambahan asam atau basa dibantu dengan pemansan. Hidrolisis secara enzimatis, yaitu jika lemak dan minyak ditambah dengan enzim lipase.
Dalam reaksi hidrolisis, lemak dan minyak akan diubah menjadi asam-asam lemak bebas dan gliserol. Reaksi hidrolisi mengakibatkan kerusakan lemak dan minyak. Ini terjadi karena terdapat terdapat sejumlah air dalam lemak dan minyak tersebut (Ginting, 2005).
2. Penyabunan
Reaksi lemak atau minyak dengan suatu basa kuat seperti NaOH dan KOH menghasilkan sabun. Oleh karena itu, reaksinya disebut reaksi penyabunan (saponifikasi). Reaksi penyabunan ini menghasilkan gliserol sebagai hasil sampingan (Purba, 2007).
Reaksi ini dilakukan dengan penambhan sejumlah larutan basa kepada trigliserida. Bila penyabunan telah lengkap,lapisan air yang mengandung gliserol dipisahkan dan gliserol dipulihkan dengan penyulingan (Ginting, 2005).






CH2O2C(CH2)16CH3 CH2OH
CHO2C(CH2)16CH3 + 3 NaOH CH2OH+ 3CH3(CH2)16CO2 - Na+
CH2O2C(CH2)16CH3 CH2OH
Triestearin basa gliserol sodium stearat
3. Hidrogenasi
Proses hidrogenasi bertujuan untuk menjernihkan ikatan dari rantai karbon asam lemak pada lemak atau minyak . setelah proses hidrogenasi selesai , minyak didinginkan dan katalisator dipisahkan dengan disaring . Hasilnya adalah minyak yang bersifat plastis atau keras , tergantung pada derajat kejenuhan (Ginting, 2005).
Menurut Purba (2007), minyak dapat dipadat melalyu hidrogenasi (adisi hidrogen). Reaksi ini dapat dikatalis oleh serbuk nikel. Sebagaimana telah disebutkan, minyak mempunyai titik leleh relatif rendah karena mengandung asam-asam lemak tak jenuh. Dengan menjenuhkan ikatan rangkapnya, yaitu dengan hidrogenasi, maka titik leleh minya akan meningkat dan menjadi padat. Reaksi seperti ini digunakan dalam pembuatan margarine dan kelapa sawit.
Reaksi Hidrogenasi
O O
CH3(CH2)4 CH=CH CH2 CH=CH (CH2)7COCH2 CH3(CH2)16COCH2 O O
CH3(CH2)4 CH=CH CH2 CH=CH (CH2)7COCH CH3(CH2)16COCH
O O
CH3(CH2)4 CH=CH CH2 CH=CH (CH2)7COCH CH3(CH2)16COCH2 Gliseriltrilinoleat Gliseriltristearat
(Cair) (padat,t.c = 71◦C)







III. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
A. Tempat dan Waktu
Adapun tempat dan waktu pelaksanaan praktikum lemak atau lipida ini dilakukan di Laboratorium Kimia Hasil Pertanian, Jurusan Teknologi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Sriwijaya, Indralaya pada Hari Senin pada tanggal 4 Oktober 2010 pukul 08.30 s.d selesai.

B. Alat dan Bahan
Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah: 1) minyak sayur, 2) margarin, 3) air suling, 4) larutan KOH beralkohol, 5) larutan NaOH, 6) es batu, 7) air suling 8) mentega 9) minyak jelanta. Sedangkan alat-alat yang digunakan adalah: 1) tabung reaksi, 2) pipet ukur, 3) pipet tetes, 4) termometer, 5) beker gelas dan 6) penangas air dan 7) batang pengaduk.

C. Cara Kerja
1. Penyabunan
a. - Masukkan sedikit bahan percobaan (4-5 tetes) kedalam tabung reaksi.
- Tambahkan 3 mL air suling dan masukkan 1 mL larutan KOH beralkohol
- Panaskan campuran tersebut sampai mendidih 1-2 menit
- Kocok dan perhatikan pembentukan sabun
b. – ulangi percobaan (a) ttetapi larutan KOH beralkohol diganti dengan larutan NaOH alcohol
- Bandingkan hasilnya dan lakukan untuk semua bahan


2. Titik Cair dan Titik Beku
- Masukkan bahan percobaan (4-5 tetes) kedalam tabung reaksi.
- Tambahkan asam palmitat dan gliserol sebanyak 3 tetes.
- Masukkan kedalam wadah yang telah berisi es dan perhatikan pada termometer suhu berapa sampel telah membeku dan catat hasilnya.
- Keluarkan tabung dari wadah yang berisi es dan pindahkan ke dalam Beker yang berisi air yang telah dipanaskan.
- Perhatikan suhu berapa bahan tersebut mencair, catat dan lakukan untuk kesemua bahan.






















IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Adapun hasil dari percobaan lemak kali ini didapatkan hasil sebagai berikut :
Sampel Campuran Keterangan
Minyak sayur 1. Air suling + KOH

2. Air suling + NaOH

3. Asam Palmitat + Gliserol 1. terdapat 3 lapisan (atas busa,tengah minyak,bawah air)
2. 3 lapisan (atas busa,tengah minyak dan bawah air)
3. 2 lapisan. Beku pada 5◦C (1 menit) dan cair pada suhu 95◦C(5 detik)
Minyak Jelanta 1. Air suling + KOH

2. Air suling + NaOH

3. Asam Palmitat + Gliserol 1.3 lapisan (atas busa, tengah sedikit kuning,bawah sedikit keruh)
2.3 lapisan (atas berbusa, tengah minyak, bawah putih keruh)
3.
Margarin 1. Air suling + KOH

2. Air suling + NaOH

3. Asam Palmitat + Gliserol 1. 3 lapisan (atas keruh,tengah jernih,bawah endapan)
2. 3 lapisan, (atas busa,tengah kuning keruh bawah kuning bening)
3. beku pada suhu 6◦C (6 menit), cair suhu 95◦C (2,5 menit)




B. Pembahasan
Adapun pembahasan yang dapat diambil dari praktikum lemak kali ini yaitu kita sebagai praktikan dapat menentukan sifat-sifat yang ada didalam lemak ataupun lipida. Bahan-bahan yang diuji untuk memperlihatkan sifat-sifat lemak yaitu mentega, margarin, minyak kelapa (minyak sayur) dan minyak jelanta. Pada praktikum kali ini kami tidak dapat mengidentifikasi sifat – sifat yang dimiliki oleh margarin, ini disebabkan salah satu dari kelompok tidak membawa margarin. Jadi, kami hanya bisa menguji beberapa bahan saja.
Bahan pertama yang kami uji yaitu minyak kelapa atau yang lebih dikenal dengan minyak sayur. Sampel pertama yaitu ketika minyak sayur dimasukkan kedalam tabung reaksi sebanyak 3-4 tetes lalu ditambah dengan air suling dan larutan basa KOH yang kemudian dipanaskan diatas hot plate yang menghasilkan tiga lapisan. Lapisan yang pertama atau lapisan atas itu terdapat sabun atau busa, lapisan kedua itu menghasilkan minyak dan lapisan terakhir itu menghasilkan air akan tetapi warnanya lebih keruh dibandingkan dengan yang awal. Sampel ke kedua juga mendapatkan perlakuan yang sama akan tetapi hanya diganti KOH dengan NaOH. Hasil yang didapat yaitu sebelum dipanaskan warnanya seperti putih sabun dan setelah pemanasan hasil yang didapat pun serupa dengan KOH. Dan sampel yang terakhir yaitu minyak dicampur dengan asam palmitat sebanyak tiga tetes dan gliserol sebanyak tiga tetes pula. Sampel ketiga ini untuk menguji titik cair dan titik beku sampel yang didapatkan dua lapisan. Lapisan atas putih keruh dan lapisan bawah lebih muda dari lapisan yang atas. Sampel ini membeku pada suhu 5◦C dalam waktu 1 menit dan mencair pada suhu 95◦C dalam waktu 5 detik.
Pada percobaan dengan sampel margarine pada penambahan KOH dan NaOH didapatkan hasil pada tabung reaksi terdapat 3 lapisan. Pada percobaan dengan menggunakan KOH didapatkan 3 lapisan pada tabung reaski dengan lappisan pertama berwarna keruh, lapisan kedua jernih dan lapisan ketiga terdapat endapan. Sedangkan untuk pengujian dengan penambahan NaOH didaptkan 3 lapisan juga akan tetapi pada lapisan pertama hasilnya terdapat gelembung, lapisan keduan berwarna kuning dan lapisan terakhir berwarna kuning bening. Untuk uji titik cair dan titik beku didapatkan hasil bahwa margarin membeku pada suhu 6◦C dalam kurun waktu 6 menit dan margarin mencair pada suhu 6◦C dalam waktu 2,5 menit.
Pada percobaan sampel dengan minyak jelantah didapatkan hasil bahwa pada penambahan KOH didapatkan 3 lapisan dimana pada lapisan atas terdapat busa, bibagian tengah berwarna sedikit kekuning-kuningan dan pada lapisan terakhir didapatkan pada bagian atas terdapat busa, bagian tengah didaptkan larutan minyak dan bagian paling bawah didapatkan warna putih keruh. Pada titik beku dan titik cair didapatkan hasil bahwa minyak jelanta mengalami pembekuan pada suhu ◦C dan mencair lagi pada suhu ◦C.










V. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum lemak kali ini yaitu sebagai berikut :
1. Lipid atau lemak merupakan senyawa yang sukar larut dalam air akan tetapi larut dalam pelar organic.
2. Lemak memiliki beberapa fungsi dalam tubuh manusia diantaranya cadangan energi, vitamin (A.D.E.K) dan hormon.
3. Secara kimiawi, lemak tersusun dari penggabungan suatu asam lemak dengan gliserol
4. Ada beberapa macam reaksi yang terjadi pada lemak yaitu reaksi hidrogenasi, penyabunan dan hidrolisis.
5. Kecepatan membeku dan mencair pada lemak tergantung pada sampel.

B. Saran
Adapun saran yang dapat saya berikan yaitu agar pada praktikum selanjutnya agar para praktikan diperhatikan lagi sehingga para praktikan tidak sibuk sendiri – sendiri.





DAFTAR PUSTAKA
Purba, Michael. 2007. Kimia untuk SMA kelas XII. Erlangga. Jakarta.
S, Bambang., Suharno., S. Maryanti., Srikini., D. A. Pratiwi. 2007. Biologi untuk SMA kelas XII. Erlangga. Jakarta.
Suharsini, Maria Dan D. Saptarini., 2007. Kimia dan Kecakapan Hidup.Ganeca Exact. Jakarta.
Poejiadi, A. 2004. Dasar-dasar Biokimia. Universitas Indonesia Press. Jakarta.
Winarno, F.G. 2006. Kimia Pangan dan Gizi. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Martoharsono, S.2008. Biokimia Jilid I. Universitas Gadjah Mada Press.
Yogyakarta.
Anonim, 2010. Lemak. ( Online). (http://id.wikipedia.org/wiki/Lemak diakses 6 - 10 - 2010)
Anonim, 2010. Lipid. (Online). (http://id.wikipedia.org/wiki/Lipid diakses 05 - 10 - 2010).
Ginting, M. Hendra S dan Netti Herlina. 2005. Lemak dan Minyak 1 – 10 .










BIOKIMIA I


















PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
INDRALAYA
2010