Selasa, 12 Oktober 2010

isolasi bakteri

I. PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Negara Indonesia adalah negara kepulauan yang berkawasan luas. Secara kasar dapat dikatakan, bahwa kawasan negara itu dua per tiga nya adalah perairan laut. Didaratan pulau-pulau terdapat sungai-sungai, danau-danau, rawa-rawa dan payau-payau serta muara-muara sungai. Semua badan air itu merupakan habitat hewan-hewan air yang banyak diantaranya mempunyai nilai ekonomi tinggi. Walupun lingkungan air laut itu lebih luas dibandingkan lingkungan air tawar, namun sekarang pengetahuan tentang lingkungan air tawar bagi ikan dan hewan air tawar pada umumnya jauh lebih mendetail, terutama tentang sejarah alamnya, ekologinya dan distribusinya. Hal ini disebabkan karena kondisi lingkungan air tawar itu lebih mudah kita capai dan kita pelajari.
Sumber daya perikanan di Indonesia terdiri dari berbagai jenis ikan, krustacea, molusca, makroalga yang hidup diperairan darat dan laut. Sumberdaya perikanan yang memiliki struktur tubuh ikan dikenal dengan istilah finfish ( fin = sirip) sedang sumberdaya yang memiliki tubuh bercangkang seperti krustacea dan molusca disebut dengan shellfish ( cangkang ).
Pada umunya ikan air tawar hampir tidak memiliki daging merah ( red muscle ) sebanyak ikan laut. Kalupun ada, daging merah terdapat dalam jumlah sedikit sekali dan hanya segaris literal ikan ( linea lateralis ).
Tempat yang digunakan untuk perikanan darat meliputi sungai, danau, bendungan, rawa, kolam, dan sawah. Usaha perikanan darat pada umumnya diusahakan oleh petani sebagai mata pencaharian tambahan. Perikanan darat yang merupakan milik umum adalah perikanan darat nonbudidaya. Ikan di sini tidak dipelihara dan dikembangkan, terdapat di sungai, danau, dan rawa
(Evy et al., 1997).
Usaha perikanan darat penting artinya bagi masyarakat karena usaha itu menghasilkan ikan yang hubungannya erat sekali dengan kemakmuran negara beserta rakyatnya dan kesehatan (Gizi). Ikan yang terdapat di daerah-daerah perikanan darat banyak sekali macamnya, tidak kurang dari 500 macam. Ikan sebanyak itu dapat kita bagi dalam 3 golongan besar yaitu Ikan Peliharaan, Ikan buas, dan Ikan Liar (Achjar, et al., 1986).
Jika dahulu rawa dibiarkan begitu saja oleh penduduk dan ikan hidup di dalamnya bukan sengaja dipelihara, sekarang tempat itu dapat diusahakan untuk memelihara ikan secara besar-besaran. Perikana darat yang merupakan milik perseorangan adalah perikanan darat budidaya. Jenis ikan yang dikembangkan adalah ikan mujair, tawes, sepat, mas, gabus, lele, nila, bandeng dan udang. Daerah rawa-rawa yang menghasilkan terutama terdapat di Pantai Timur pulau Sumatera dan Pantai Selatan Pulau Kalimantan. Empang dan kolam terutama dikembangkan di Jawa Barat, jenis ikan yang dipelihara adalah ikan Mas dan ikan Gurami. Perikanan di sawah diusahakan di pulau Jawa, yang diusahakan sesudah panen padi atau bersama-sama dengan tanaman padi (Evy et al., 1997).


B. TUJUAN
Tujuan dari praktikum Isolasi Bakteri ini adalah sebagai berikut :
a) Mengisolasi mikroba dengan berbagai macam metode atau teknik.
b) Mengisoalasi bakteri jamur untuk mendapatkan biakan murni.











II. TINJAUAN PUSTAKA

Medium adalah suatu bahan yang terdiri dari campuran nutrisi yang dipakai untuk menumbuhkan mikroorganisme. Selain itu juga medium digunakan untuk isolasi, memperbanyak, pengujian sifat-sifat fisiologi dan juga digunakan untuk perhitungan jumlah mikroba. Di dalam medium harus ada nutrisi yang merupakan kebutuhan dasar dari mikroorganisme yang meliputi air, karbon, mineral, energi, dan faktor tumbuh. Air sangat penting artinya karena merupakan komponen dasar protoplasma, jalan masuknya nutrien ke dalam sel, jalan keluarnya hasil eksresi dan sekresi dari dalam sel, dan juga untuk reaksi-reaksi enzimatik. Air yang baik digunakan dalam pembuatan medium pembiakan mikroorganisme adalah air suling, karena bila air yang digunakan adalah air sadah untuk pembuatan medium yang terbentuk dari ekstrak daging dan pepton maka akan terbentuk endapan fosfat dan magnesium fosfat. Dengan adanya endapan-endapan tersebut maka akan menghambat bagi pertumbuhan biakan yang ditanam dalam medium yang telah dibuat. Berdasarkan sumber karbon maka mikrobia dapat dibedakan atas mikrobia yang dapat mensintensis semua komponen sel dari karbondioksida yang disebut dengan autotrof. Sedangkan mikrobia yang memerlukan satu atau lebih senyawa organik sebagai sumber karbon disebut heterotrof (Widjajanti, 1993).
Terasi adalah bumbu masak yang dibuat dari ikan dan atau udang renik (jembret;gamberetti-it) yang difermentasikan, berbentuk seperti pasta dan berwarna hitam-coklat, kadang ditambah dengan bahan pewarna sehingga menjadi kemerahan. Terasi memiliki bau yang tajam dan biasanya digunakan untuk membuat sambal terasi, tapi juga ditemukan dalam berbagai resep tradisional Indonesia (Anonim, 2010).
Terasi sebenarnya adalah hasil fermentasi dari ikan ataupun udang. Siapa yang membuatnya pertama kali, tidak lah jelas. Konon, terasi dibuat oleh para nelayan sebagai produk sampingan ketika mereka mengasinkan udang atau ikan. Ada juga teori yang mengatakan terasi ini adalah pemanfaatan udang atau ikan yang tak habis dijual. Mungkin, daripada busuk, ikan dan udang dibuat jadi terasi ini. Apapun alasannya, para penikmat kuliner harus berterimakasih, karena dengan adanya terasi, banyak hidangan jadi lebih gurih dan nikmat (Anonim, 2010).
Sebutan terasi di berbagai tempat di Asia tenggara ini juga berbeda-beda. Kita mengenalnya dengan sebutan terasi atau trasi. Orang Birma menyebutnya ngapi. Orang Thailand, Khmer dan Laos mengenalnya sebagai kapi. Sedangkan di Malaysia sebutannya adalah belacan. Di Vietnam namanya adalah mam tom. Bagoong Aramang adalah nama terasi di Filipina. Sedangkan di Cina orang menyebutnya hom hay atau hay koh. Namun secara umum dunia internasional mengenalnya sebagai dried shrimp paste (Anonim, 2010).
Kita mengenal terasi dalam bentuk blok berwarna kecokelatan. Tapi sebenarnya variasinya lumayan beragam; dari bentuk krim cair sampai blok, dengan warna pink keabu-abuan, kemerahan, hingga cokelat gelap. Rasa, texture dan keasinannya pun berbeda-beda (Anonim, 2010).
Sentra industri Terasi di Indonesia ini terdapat di Tuban, Sidoarjo, Madura, Indramayu, Cirebon, Bagan Siapi-api dan Bangka. Sedangkan di Negara tetangga Malaysia, terasi diproduksi di Pulau Betong. Filipina punya sentra industri terasi di Pangasinan. Dan Hongkong memproduksinya di pulau Ma Wan, tepatnya di desa Tin Liu (Anonim, 2010).
Memilih dan Menggunakan Terasi
Memilih terasi yang bagus, mudah saja. Jadikan hidung kita sebagai ‘detektif’. Hirup saja aroma terasi. Terasi yang bermutu baik punya aroma yang segar dan wangi. Biasanya yang begini terbuat dari bahan pilihan, bukan sisa-sisa ikan atau udang yang tidak laku! Hal lain yang perlu diperhatikan adalah, hindari terasi yang menggunakan pewarna. Warna terasi adalah cokelat gelap. Biasanya yang berwarna kemerahan sudah menggunakan pewarna (Anonim, 2010).
Pembuatan Terasi
Dikenal beberapa teknik pembuatan terasi, tapi industri rumah tangga di Indonesia biasanya mengolah terasi dengan cara seperti berikut ini: Ikan dan udang kecil-kecil dipisahkan, dicuci, kemudian dijemur. Setelah itu digiling dengan komposisi yang berbeda. Untuk terasi udang, komposisi udang dan ikan adalah 3:1. Sedangkan untuk terasi ikan komposisi ikan dan udangnya adalah 2:1. Hasil gilingan akan berbentuk gumpalan pasta pekat. Pasta ini akan digarami dan kadang diberi pewarna agar kemerahan. Pasta terasi dijemur lagi hingga lebih kering, baru dibentuk blok-blok dan dikemas sesuai selera konsumen (Anonim, 2010).

























III. METODELOGI PRAKTIKUM

A. Tempat dan Waktu
Praktikum ini dilaksanakan pada hari selasa, 11 Mei 2010 pada pukul 12.30 WIB sampai selesai. Yang bertempat di Laboratorium Bersama Program Studi Budidaya Perairan Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya Indralaya.


B. Alat dan Bahan
Alat :
• Tabung reaksi : ambil tabung reaksi yang sudah steril kemudian masukkan usus ikan nila
• Jarum ose : jarum ose digunakan dalam penghalusan usus ikan dalam tabung reaksi
• Bunsen : isi bunsen dengan spritus kemudian nyalakan api
• Pisau : bedah ikan nila untuk mengambil ususnya
• Tissue : keringkan alat-alat
• Cawan petri : untuk tempat tumbuh mikroorganisme
• Erlenmeyer : sterilkan, masukkan larutan TSA ke dalam tabung erlenmeyer
Bahan :
• Media agar TSA : sebagai media tumbuh bakteri
• Terasi : sebagai bahan yang praktikum.
• Ikan nila : sebagai bahan praktikum.
• Ikan peda : sebagai bahan praktikum.



C. Cara Kerja
Teknik goresan (Steak Plat)
Medium disiapkan dalam sawan petri lalu suspense bakteri diambil dengan menggunakan jarun ose secara aseptic. Kemudian dimasukkan ke dalam cawan petri dengan cara menggoreskan pada permukaan agar. Lalu cawan petri tali dibungkus kemudian diinkubasi selama 1 sampai 3 hari.
























IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil
No Bahan Jumlah Koloni
1. Terasi 212 x 4 = 848
2. Terasi 96 x 4= 384
3. Ikan Asin Pedo 148 x 4= 592
4. Ikan Asin Pedo 170 x 4= 680
5. Ikan Nila 252 x 4= 1008
6. Ikan Nila 146 x 4= 584


B. Pembahasan
Pada percobaan ini, kelompok satu mendapatkan tugas untuk mengisolasi bakteri terasi. Kegiatan pertama yang dilakukan dalam mengisolasi bakteri adalah menyiapkan 3 buah tabung reaksi yang telah terisi oleh aquadest sebanyak 9 ml. dimana pada setiap masing – masing tabung reaksi diberi merek yaitu 10-1, 10-2 dan 10-3. setelah itu kita menghaluskan terasi yang sebelumnya telah ditimbang sebanyak 1 gr. Setelah terasi tersebut halus kita masukkan terasi ke dalam tabung reaksi dengan merek 10-1. Setelah itu kocok hongga homogen kira – kira selama 5 menit. Setelah didapat hasil yang homogen dari tabung pertama yang berwarna merah menyala, ambil sekitar 1 ml pada tabung reaksi pertama dimasukkan ke dalam tabung ke dua yaitu dengan merek 10-2. Kemudian kita berikan perlakuan yang sama seperti pada tabung reaski yang pertama yaitu dengan mengocoknya hingga homogen yang nantinya memiliki warna merah pudar.
Setelah hal yang sama kita lakukan, maka kita ambil 1 ml lagi dari tabung ke dua dengan cap 10-2 dan masukkan kedalam tabung reaksi yang terakhir dengan merek 10-3 yang kemudian berwarna keruh. Setelah itu kita ambil 1 ml lagi dari tabung reaski yang kedua lalu dimasukkkan ke dalam cawan petri. Sebelum dimasukkan kedalam cawan petri, cawan harus dalam keadaan steril atau terbebas dari bakteri ataupun mikroorganisme lainnya. Pensterilasn cawan petri ini dengan menggunakan Bunsen. Setelah itu kita tambahkan sedikit agar pada cawan petri hanya sampai agar tersebut menutupi seluruh permukaan dari cawan petri.
























V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum “Isolasi Bakteri” adalah:
1. Terasi sebenarnya adalah hasil fermentasi dari ikan ataupun udang.
2. Terasi yang bermutu baik punya aroma yang segar dan wangi.
3. Semakin sering terasi dicampur dengan aquadest maka warnanya akan semakin muda atau semakin jernih.
4. sebelum dimasukkan terasi, cawan harus steril dari bakteri atau mikroorganisme.
5. Campuran terasi dengan aquadest harus dikocok hingga homogen agar praktikum berlangsung secara optimal.


B. Saran
Selama praktikum berlangsung, saran saya yaitu sebaiknya praktikan dijelaskan secara rinci mengenai cara kerja dari praktikum ini. Akan lebih bagus lagi jika pada praktikum ini alat-alat yang disediakan lengkap agar setiap praktikan dapat mencoba, tidak hanya melihat saja.












DAFTAR PUSTAKA

http://iptek.apjii.or.id/budidaya%20perikanan/PEMD/Nila/img/Nila_1_p1.jpg
Dermawan,Iwan. 2001. Ikan Hias Air Tawar. Penebar Swadaya. Jakarta
Rusdi, Taufiq. 1987. Usaha budidaya Ikan Gurame. CV. Simplek. Jakarta.
Sitanggang, M. 1999. Budidaya Gurame. Swadaya. Jakarta.
http://id.wikipedia.org/wiki/Terasi
http://www.lautanindonesia.com/serbarasa/artikel/tips-of-the-week/terasi--tips-pembuatannya
http://dapurmlandhing.dagdigdug.com/2008/04/19/terasi/
http://bisnisukm.com/pembuatan-terasi.html





























LAPORAN TETAP PRAKTIKUM
DASAR DASAR MIKROBIOLOGI AKUATIK
ISOLASI BAKTERI




















Oleh :
Wahyu Angga Saputra
05091005026











FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
INDRALAYA
2010

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar